Sejuknya aroma pantai , setiap
sore aku selalu duduk di tepi pantai didesa ku tepatnya di desa “ Lais,
Bengkulu utara, kunikmati lambaian dedaunan pohon kelapa, dan sejuknya angin
laut yang merasuk kedalam poriku, begitupun alunan deburan ombak yang
meramaikan suasana serta kicauan burung laut yang tak mau ketinggalan , hilir
mudik kesana-kemari, MasyaAllah, begitu sempurnanya cipataanMu. Aku duduk di
sebuah patahan pohon kelapa yang sudah tua, sambil menikmati buku-buku yang aku
beli dari pasar loak, ya Cuma buku bekas. Maklumlah, kami ini anak nelayan tak
mampu untuk membeli buku yang baru, pakaian sekolah pun untung ganti 3 tahun sekali. Tapi aku bersyukur , aku
memiliki orang tua yang lebih mementingkan pendidikan, ayahku banting tulang
pergi melaut pergi malam hari dan besok pagi pulang, paginya ia menjual barang tangkapannya dengan
wak jamal, itupun harganya sangat miring dan tak sebanding dengan kerja keras
bapak, begitulah setiap harinya, demi mengidupi enam anak dan mamak. Namaku
Isnarmi, tapi biasa dipanggil iis, aku anak pertama dari 6 bersaudara,
adik-adikku masih kecil-kecil , aku sendiri adalah siswa kelas 3 madrasah aliyah
( MA), aku punya 5 adik, 3 laki-laki dan 2 perempuan. Ahmad kelas 2 MTS,
yusuf kelas 1 Mts, ainun kelas 4 SD, Fatimah kelas 1 SD dan yang terakhir luqman baru berusia 3
tahun. Sebenarnya mamak dan bapak bukanlah penduduk asli sini, mamak dan bapak
adalah orang Medan melayu, entah apa sebabnya kami terdampar di sini, namun
walau kami tidak berada di medan kami tetap menggunakan bahasa melayu, di rumah
kami.
Tak terasa hari hampir magrib,
kakikupun melangkah kesebuah rumah yang sangat sederhana, terbuat dari kayu,
berlantai semen kasar. “ darimana nak?”,
mamak bertanya. Kutatap lemat-lemat wajah yang lelah , kelihat setiap
kerutan di wajahnya, kerutan yang telah menjadi saksi betapa susahnya ia
mengarungi kehidupan ini. “seperti biasa Dari pantai mak” ujarku sambil
menyunggingkan senyuman . ya sudah, tolong mandikan luqman, mamak nak masak
untuk makan kalian petang ni!. “Iyo mak. Akupun langsung bergegas ke sumur,
sambil menggendong luqman yang imut, ia sangat senang jika ia akan dimandikan,
karena ia suka main air, biasalah anak kecil. “ Allahuakbar- Allahuakbar”, azan
magribpun berkumandang, kami aku dan adik-adikku sudah siap berangkat menuju
surau kecil, yang jaraknya hanya 30 meter dari rumah. Kebiasaan di desa kami,
sholat magrib berjamaah di surau sesuasai sholat para anak-anak dan remaja langsung meneruskan tadarusa al-qur’an.
setelah isyak baru lah kami pulang kerumah kami masing-masing.
Seperti biasa, usai mengaji,
tugas saya adalah mengajari adik-adik saya belajar , setelah usai mengajari
mereka barulah saya focus ke pelajaran saya. “ Is dah malam nak, belum tidur?”
mamak memecah kan konsentrasiku, “ Ia mak bentar la lagi, masih banyak tugas
yang nak diselesaikan”, jawabku. Tapi
jangan dak tiduk ye”. Mamak menjawab lagi. Iye mak! Kulihat jam masyaAllah udah
jam 12.30, kulihat adik-adikku sudah tidur lelap semua, haha benar- benar
sunyi, hanya suara nafas yang berdesah sesekali yang terdengar.
Kriiiiiiiiiiiiiiing……………..
Kriiiiiiiiing............
Satu-satunya jam alarmku
berdering keras, alarm tua yang telah menemaniku sejak aku kelas 3 SD , aku
ingat betul ketika bapak membelikan ini sebagai hadiah ulang tahunku yang ke –
8 , dan setelah ini aku tak pernah mendapatkan hadiah-hadah lagi. Ku lihat jam
kusam ini, Aku terperanjat, sudah jam 4.00. aku buka jendela kamarku untuk
menghirup udara pagi, terdengar sayup-sayup suara mamak mengaji sangat merdu.
Adik- adikku masih pulas tertidur . ku basuh mukaku, kuambil air wudhu, lalu ku
bangunkan adik-adikku. Merekapun bergegas bangun dan bersuci kemudian
bersiap-siap untuk melaksanakan subuh berjamaah kesurau.
Sepulangnya kami bersiap- siap untuk
berangkat ke sekolah, dan mamak telah mempersiapkan sarapan untuk kami.
Di Sekolah
Is, panggil
bu eli. Ya bu, jawabku. Kau di panggil kepala sekolah katanya ada yang nak
dikasihkan!. Dengan gugup dan pikirang bermcam-macam aku perg menghadap pak hamdi,
kepsek kami. Ku ketuk ruang kepsek, masuk is kata pak hamdi. Aku masuk keruangan,
duduklan ,ujar pak hamdi lagi. Akupun duduk,dan bertanya,” ada apa pak?”,
tanyaku. Begini bapak dapat surat dari perguruan Tinggi di malaysia, yang kau
ikut tes kemaren. Kata bapak hamdi. Hah tubuhku semakin gugup. Memang 3 bulan
yang lalu aku ikut tes beasiswa ke UTM ( univesiti teknologi malaysia). ”Lalu
pak apa isi suratnya” dengan wajah gugup dan mulai berkeringat dingin. ” kamu
dinyatakan lulus beasiswa di sana untuk jurusan Teknik Informatika disana” kata
bapak sambil memberikan suratnya. Aku langsung berteriak haru dan sujud syukur
di ruang kepsek, bulir-bulir beningpun mengalir begitu saja, tak henti-hentinya
kupanjatkan rasa syukurku kepada Allah Swt.
Sepulang sekolah,
Aku langsung manghambur dan memeluk mamak, mamang bingung melihat tingkahku
yang tidak biasa. ”Mamak Aku lulus beasiswa ke UTM ( malaysia) jurusan
informatika” jelas mamakku sontak sujud syukur dan menciumku berulang kalie, ”Alhamdullillah
terimakasih ya Allah” berulangkali ia mengucapkan rasa syukurnya. Ku tatap
wajahnya terlihat gurat kegemberiaan menghapus lelahnya selama ini, ketika
mendengar kabar gembira ini. Namun aku masih harus menuggu kepulangan bapak
sudah 2 hari ia melaut dan belum pulang, tak seperti biasanya.
Seperti biasa sore ini aku pergi ke pantai
sambil menenteng buku di tanganku, sambil ku gendong luqman, mamak tadi pergi
ke rumah tetangga yang akan kawinan aku ditugaskan untuk mengasuh luqman. Di
perjalanan aku lihat, rike, serli, dan rika yang sedang tertawa lepas mengobrol
dengan teman prianya. Gadis seusiaku
memang sudah seharusnya menikah kalau di desaku. Sehingga banyak yang sudah
berpacaran ketika mereka masih sekolah. Tapi mamak dan bapak selalu menasihati
aku agar tidak terlalau dekat dengan laki-laki yang bukan muhrim, karena itu
dosa, dan aku juga sering membaca buku banyak wanita yang berpacaran sampai
hamil di luar nikah, sehingga mereka malu dan mengugurkan kandungannya. Cerita
dan berita yang membuat aku mual dan jijik.Maka dari itulah aku lebih memilih
jalanku dari pada mengikuti mereka, tapi banyak teman-teman yang mengataiku iis
si kolot g laku dan pacarnya Cuma buku dan buku, aku tak pernah menanggapinya,
karena yang terpenting buatku adalah Cinta Allah, dan kebahagian keluargaku.
Hah sore,
ini tak seperti biasanya, ombak begitu deras dan tinggi, anginpun tak bersahabat sangat kuat sehingga dahan ranting kelapa
yang sudah tua ikut terbawa angin, akhirnya aku memutuskan pulang, keuambil
luqman yang asik bermain pasir, ” kita balik lukman, ari la petang”. Iya pun
mangakat tangannya tanda siap untuk di gendong.
Hujan
mengguyur lebat, aku berlari kecil kuambil pelepah kelapah untuk melindungi
luqman. Akhirnya aku sampai di istana kami. Ainun langsung menyambut kami yang
basah kuyup, ia langsung mengambil luqman dari tanganku dan mengajaknya mandi.
Ainun memang baru kelas 4 SD tapi
sikapnya sangat dewasa, ia sangat telaten merawat luqman, ia juga pintar masak,
begitupun fatimah gadis kecil yang berusia 6 tahun ini sedang sibuk menjahit
pakaian sekolahnya yang robek. ” mamak
belum pulang mah?” aku bertanya ke fatimah, belum yuk, mamak masih sibuk masak
disana.” bapak?” tanyaku lagi. ” belum pula yuk, bapak masih melaut kata wak
harun bapak ikut melaut ke laut seberang makanya belum pulang sampai hari ini”.
Aku langsung ke dapur menggantikan mamak menanak nasi dan masak sayur untuk
makan malam.
Tok2..........
Assalamu’alaikum
terdengar suara dari pintu depan, ku panggil fatima, Mah , liat la keluar dulu,
sape yang ngetok tu. Fatimah langsung membuka pintu ternyata ahmad dan yusuf balik, badannya penuh pasir dan basah kuyup,
menggigil. Mereka langsung bergegas mandi kesumur. Ku lihat mereka sambil
menggeleng-geleng, dari main bola ye, tanyaku. ” iye kak, jawab mereka. Ahmad dan yusuf memang suka sekali bermain
bola hampir setiap sore mereka menghabiskan waktunya bermain bola.
Mamak pulang
kata fatimah riang, ia senang sekali,setiap pulang dari masak tempat tetangga
hajatan mamak pasti dapat lauk dan gulai.
” bapak dah pulang nak?”, tanya mamak, ’ belum mak ,jawabku. Kulihat
mimik muka mamak yang penuh dengan kecemasan. Baiklah mamak mandi dulu kalian
siap-siaplah untuk sholat jamaah, kite jamaah di rumah saje, Ahmad jadi imam
ye?” tanya mamak. ” iye mak” sahut ahmad,,
Suasana
rumah mendadak menjadi seperti surau,
hikmat dan sungguh syahdu, lantunan ayat demi ayat al-Qur’an begitu
indah dialunkan oleh ahmad. Ahmad memang Juara 1 MTQ, tingkat provinsi.
Sesuasai sholat kami langsung tadarusan,,
Tiba-tiba.............
Tok...2...
Assalamu’alaikum,
Siapelah
kemari hujan-hujan deras begini kata mamak. Mamak pun membuka pintu ku lihat wajah
tak asing lagi, yah wak harun, , masuk wak ujar mamak, beliaupun masuk,” aisyah,
kami dapat kabar dari jamal, katanya kapal yang dipakai Farhad tenggelam di
telan ombak yang besar”. Dunia seperti benar- benar gelap mamak terkejut dan
menangis sejadi-jadinya, berulang kali mengucapkan ”innalillahi wainnailahi
rojiun”. Kamipun sontak langsung memeluk mamak dan menangis di pelukan beliau.
Wak harun ikut meneteskan air mata. Wak harun adalah kakak bapak satu-satunya
dan satu2nya keluarga bapak yang tersisah.” sabar aisyah kami sekarang sedang
berusaha mencari Farid dan teman-temannya, bersama TIM penyelamat lainnya,
doakan saja semoga Farhad Selamat”. Iye wak, makaseh atas beritenye,
InsyaAllah.
Ya Allah,
padahal baru beberapa jam yang lewat aku melihat tawa dan tangis bahagia beliau
akan kelulusanku di UTM, sekarang semua berubah keperihan dan kesedihan yang
nyata,” Ya Allah Selamatkan dan temukan bapakku”, aku berdoa di dalam hati.
Aku dan
mamak benar-benar tak bisa tidur malam ini, mamak tak berhenti mengaji, dan
bertasbih, ia begitu khusuk, kuikuti kata demi kata, dan bait demi bait lantunan
ayat suci yang dibacakan mamak, bulir-bulir airmata tak terasa telah membanjiri
mukena ku, Ya Robbi, Cobaan apa yang
Engkau berikan kepada keluarga hamba, begitu beratnya ya Allah, ku tatap adik-
adikku yang tertidur pulas, mereka masih terlalu kecil untuk mengerti keadaan
ini, mereka belum siap jika meraka harus di tinggal bapak, Bapak adalah tulang
punggung keluarga hamba, ku alihkan pandanganku ke mamak yang sedang khusuk
bermunajah kepada Allah, Mamak, Engkau begitu tegar menghadapi aral yang
merintang dalam kehidupan ini, air mataku semakin menjadi ketika mataku semakin
dalam menatap muka mamak yang basah oleh air mata, ya memang air matalah yang membuat mamak bisa tegar
sampai saat ini. Ia tak pernah menampakkan keluhnya kepada kami, Ia hanya akan
berkeluh kesah ketika sepertiga malam, ia curahkan semua isi hatinya dan
harapnya jika sepertiga malam tiba. Beliau begitu sabar menhadapi kami yang
bandel, setiap bapak pulang pasti ia menyediakan makanan yang enak, ia akan
memanaskan air untuk bapak mandi, ah mamak memang wanita sholehah.
Esok pagi
seperti biasa kami berangkat sekolah, hari ini aku tidak bisa berfokus belajar
hari ini. Konsentrasiku benar-benar buyar, aku tak tahu apa yang di jelaskan
oleh ibu salma, mataku hanya menerawang kosong menatap papan tulis. Teng-teng,
lonceng berbunyi tanda waktunya pulang.
Aku langsung menyusun bukuku dan langsung keluar dari kelas. Kakiku melangkah
secepatnya tak seperti biasa, kulihat dari kejauhan, rumahku ramai dikujungi
tetangga ada bendera kuning yang bertengger di pagar buluh rumah. ’ ada apa ini?’
gumamku, semakin cepat kulangkahkan kaki ini. Kulihat sosok yang di balut kain
putih dan ditutup ole kain baik rumahku, aku pun langsu mendekatinya,
innalillahiwainnilahi rojiun, Bapakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk, tangisku ,
mamak langsung mendekatiku dan memelukku, kupeluk mamak sekuat-kuatnya ,
kulihat, ainun, fatimah, ahmad, dan yusuf mereka berempat berangkulan menangisi
kepergian bapak, sedangkan luqman, masih asyik bermain dengan mobil-mobilan
yang di belikan bapak 1 bulan yang lalu, ah luqman kau memang masih terlalu
kecil untuk mengerti ini.
Mau tidak
mau kami harus mengikhlaskan kepergian bapak,
sudah satu minggu kami di tinggalkan bapak, mamak sudah mulai bergiat bekerja menjahit dan berjualan ikan
di pasar induk. Kami dan fatimah bergantian membantu mamak, jika aku, ahmad dan
yusuf pulang sekolah, kami ganti baju
dan menggantikan mamak berdagang sedangkan ainun dan fatimah dirumah menjaga
luqman ,mamak pulang untuk meneruskan pesanan jahitannya, begitu seterusnya,
hingga bulan pun berlalu. Tak ada lagi waktu sore di tepi pantai.
Tepat akhir
juli aku dinyatakan lulus MA dengan Juara umum 1, aku sungguh bahagia, ku lihat
muka mamak begitu bangganya. Pak hamdi,” selamat ya iss, o- ya gimana
beasiswanya jadi diambil?”, aku terdiam mendengarnya, insyaAllah pak, nanti
saya mau izin dulu sama mamak, ujarku. ” baiklah kalau begitu, kalau jadi
bilang ke pak saja, nanti bapak bantu kamu urusnya”. Jawab pak hamdi. ” baik
pak, makasih”, jawabku.
Sesampai
dirumah, mamak sudah menyiapkan hidangan lezat dan spesial, ainun, ahmad, fatimah, yusuf, dan si kecil
luqman berlari kecil memelukku, sambil
membawa kertas gambar yang bertuliskan, ” SELAMAT UNTUK AYUK KAMI TERCINTA,
KAMI CINTE AYUK”, air mataku mengalir
begitu saja kucium wajah mereka satu persatu, ” trimemakeh adik-adikku
sayang”. IS, Ahmad, Yusuf, ainun, fatimah,
luqman, payo kite makan dulu”. Mamak berteriak memanggilkan kami dari ruang
makan + dapur.
Langit mulai
gelap, senjapun tiba, suara adzan terdengar indah, menyusuri pori dan masuk
kerelung hati yang paling dalam, Masyarakat ”lais” berbondong- bondong pergi
kesurau tanpa terkecuali. Aku membantu
mamak menjahit pulang dari surau, ” is, besok cemane beasiswamu jadi tak nak
kau ambil”, ujar mamak. aku balik bertanya, menurut mamak?”, ” kau ambil ya,
mamak setuju, kau harus jadi orang biar bisa bantu mamak sekolahkan adik-adikmu
nanti, mamak akans selalu berdoa untukmu is”. Aku termenung sejenak kumatikan
mesin jahitku. ” kutarik nafas dalam-dalam, baiklah mak is akan ambil. Besok is
kerumak pak hamdi untuk mengurusnya”. Mamak beranjak memelukku untuk yang
sekian kalinya.
Esok harinya
aku bergegas mendatangi pak hamdi, beliaupun langsung membantuku menghubungu
pihak UTM. Hari ini aku pergi ke ibu kota provinsi untuk membuat rekening dan
mengurus paspor serta visa pelajarku disana, jujur jika tidak ada beasiswa kau
tidak akan bisa kuliah, semua biaya hidup serta keberangkatanku telah di biayai
oleh pihak UTM. Pak hamdi begitu bersemangatnya membantu aku, ia pernah berkata
bahwa ia sangat bangga karena baru aku satu-satunya mahasiswa yang lulus tes
beasiswa ini.
”ya Allah
terima kasih, Engkau telah memberikan bantuan kepada ku dengan tangan pak
hamdi, Balasalah semua kebaikkannya terhadapku, aku belum bisa untuk
membalasnya” doaku dalam hati.
” is
ini, buku rekening, ATM, dan Visa pelajarmu,
serta paspormu, kamu berangkat tanggal 15 Agustus. Nanti bapak yang
mengantar kamu ke provinsi lagi”, ujar pak hamdi. ” iya pak, trimakasih”,
jawabku.
Ku rebahkan
tubuhku diatas kursi rotan, kutarik nafas dalam-dalam, begitu nikmatnya. Waktu
tinggal 1 minggu lagi berada di Desa ini, Desa lais yang sangat kucintai, aku
pasti akan merindukan deburan ombak, dan lalu lalang anak-anak berlari bermain
bola di tepi pantai. Aku harus memaksmalkan untuk bantu mamak selama 1 minggu
ini.
Esok
harinya, seusai sholat subuh mamak telah bersiap berangkat ke pasar dan aku
menyiapkan nasi dan lauk kedalam rantang untuk mamak sarapan di pasar,
adik-adikku sibuk lalu lalang menyiapkan buku dan tas serta pakaian untuk
mereka ke sekolah, setelah siap mereka berkumpul di meja makan tua yang hampir
reot, mereka makan sarapan dengan lahapnya walau Cuma lauk ikan asin. Ku tatap
mereka satu persatu, pakian mereka persis kain pel, tidak putih lagi, sepatu
mereka, sudah tambalan sana-sini, tas mereka sudah lapuk dimakan usia, ” ya
Allah, semoga jalan yang hamba pilih ini benar, rasanya aku benar-benar berat meninggalkan
mereka”, tak terasa tertitik air mata ini. Yuk kami berangkat dulu ya,
Assalamu’alaikum”, ujar mereka. ” wa’alikusalam”. Kupandangi punggung-punggung
kecil mereka sampai menghilang, akupun bergegas melanjutkan jahitan baju yang
harus diselesaikan hari ini.
Kulihat
kalender, hari ini adalah hari terakhirku berada di tumah tua ini, besok adalah
hari keberangkatan ku ke malaysia. Mamak sibuk mempersiapkan barang-barang
untuk kubawa besok. ” is, jagelah dirimu baek-baek di sane, jangan macam-macam, Sholat lime
waktu jangan ditinggalkan, tadarus dan hapalan Qur’an mu juga lanjutkan. Dan
terakhir mamak pesan, tak usahlah kau pacar-pacaran, kalau jodoh InsyaAllah
pasti dipertemukan kelak, ye! Mamak akan selau berdoa untukmu nak” sambil
mengelus rambutku.
Iye la mak,
InsyaAllah mak akan laksanakan petuah mamak. Jawabku sambil tersenyum.
Tanggal 15
Agustus
Mamak memang
tak jualan hari ini, beliau sibuk memasak dan mempersiapkan keberangkatanku ke
Malysia, adik-adikkupun tak ada yang sekolah. Tepat pukul 07.00 pak Hamdi
menjemputku, mengingat keberankatan pesawat yang akan aku tumpangi pukul 9.30,
dari desa saya ke ibukota butu wakti 1 jam 30 menit. Ku peluk mamak erat-erat,
rasanya tak ingin kulepaskan pelukannya, namun mamaklah yang melepaskannya,
begitupun adik-adikku mulai meneteskan air mata, mereka menghambur memelukku,
kucium wajah mereka satu persatu, sampai jilbabku basah oleh tangis mereka. ”
yuk kalau lah jadi orang jangan lupe same adek-adek ayu ni, ujar ahmda”. Aku
mengangguk dan memeluk mereka untuk kesekian kalinya.
Ku lepaskan
pelukanku, mereka menangis sejadi-jadinya, mamak sibuk membujuk mereka. ”
Assalamu’alaikum warahmullahi wa barkathu”, ku lambaikan tanganku. ” wa’alaikum
salam wr wb” jawab adik-adik dan mamak.
Hah, Lais
aku titiP adik-adik dan mamakku di sini, Semoga kelak kami akan di pertumukan
segera.
Langit pun seolah tahu, Hari ini
benar-benar mendung, semendung hati kami…
To be continue!!!
^_^
” is
ini, buku rekening, ATM, dan Visa pelajarmu,
serta paspormu, kamu berangkat tanggal 15 Agustus. Nanti bapak yang
mengantar kamu ke provinsi lagi”, ujar pak hamdi. ” iya pak, trimakasih”,
jawabku.
Universitas Teknologi Malaysia
Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Universitas Teknologi Malaysia (bahasa
Melayu: Universiti Teknologi
Malaysia; UTM) merupakan salah sebuah universitas di Malaysia. Kampus utamanya terletak
di Skudai, Johor
Bahru,
sementara kampus cabangnya terletak di Kuala
Lumpur.
UTM memperoleh status universitas pada Maret 1972 dan resmi didirikan pada
tahun 1975.
Universitas Teknologi Malaysia

