Rabu, 06 Mei 2015

someone ^_^

 

Wahai kamu, sebuah nama yang belum tereja kata.
Sesosok pribadi yang belum terjangkau mata.
Wahai kamu yang entah berada dimana.

Di titik ini ku menanti sambil memantaskan diri, 
Biarlah ku sendiri di tengah ramainya gemerlap pacaran di usia dini.

Jika aku menjaga hati, aku yakin kau pun juga sedang menjaga hati, 
Karena firman-Nya itu pasti, 
Wanita baik-baik adalah untuk laki-laki baik-baik,

Wahai kamu, orang asing yang dengan ijin Allah akan menjadi imamku suatu saat nanti, 
Semoga Allah selalu menjagamu dalam sebaik-baik ketaatan padaNya.

Oleh: @perempuansurga

Jumat, 01 Mei 2015

Bersyukur




Tidak semua orang terlahir beruntung dalam hidupnya.
Ada yang tertakdir dengan wajah rupawan, pintar, harta melimpah dan orang tua yang harmonis.
Ada pula yang biasa saja.
Wajah biasa, harta tak menggunung, otak tidak terlalu cerdas.
.
yang beruntung hidupnya,
tak berarti Allah lebih sayang kepadanya.
Jangan geer dulu,
Bisa jadi didalam segala kemudahan itu terselip cobaan.
.
yang kurang baik hidupnya,
tak berarti Allah tak sayang.
Jangan berkecil hati,
Bisa jadi dibalik segala keterbatasan tersimpan hikmah yang besar.
.
yang beruntung tak punya hak menjudge si kurang beruntung jika menemukan "kesalahan" dalam hidupnya.

Pun sebaliknya,
si kurang beruntung tiada hak mencap si beruntung dengan perkataan keji karena terselipi iri dengki di dalam hati.

Jangan menghakimi seseorang hanya karena jenis dosa yang kita lakukan berbeda.
.
Sebab,
Kita terlahir berbeda.
Dibesarkan dan dididik oleh orang tua yang berbeda.
Memiliki latar belakang keluarga dan budaya berbeda.
Memiliki cobaan hidup berbeda.
Ada dalam lingkungan yang juga beda.
Lalu tumbuh besar dengan pandangan hidup yang beda pula.

Mengapa harus menjudge si A dengan cap "X" atau "Z" sementara engkau

tak pernah melihat menggunakan matanya,

tak pernah berpikir memakai otaknya,

tak pernah merasa menggunakan hatinya,

tak pernah meraba dengan tangannya,

tak pernah melangkah dengan kakinya,

tak pernah berkata menggunakan mulutnya,

tak pernah mendengar dengan kedua telinganya,

tak pernah rasakan oksigen mengaliri paru-paru menggunakan hidungnya,

tak pernah hidup dengan caranya,

dan

tak akan pernah bisa menjalani hidup yang dia punya walau satu detik saja.
.
Jadi,
apakah masih ada rasa sombong di diri untuk memberikan stempel buruk kepada saudara saudari kita sementara kita takkan bisa menjadi dirinya dan berada di posisinya?

Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hambaNya.
Baik di mata manusia belum tentu baik di mata Allah.
Buruk di mata manusia belum tentu buruk di mata Allah.
.
Tumbuhlah.
Jalani hidupmu dengan sebaik-baiknya.
Jika pernah dan sedang salah, segeralah perbaiki.

Belajarlah.
maka engkau akan semakin mengerti dan semakin bijaksana dalam menyikapi hidup.
.
Kontribusi oleh: @kinantisetiawan 🙏