Minggu, 19 April 2015

Cinta Lelaki Biasa

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. 
Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania.
Mereka ternyata sama herannya.
Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.
***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.
Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.
Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.
Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.
Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!
Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.
Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat.

i'm muslim say no valentine days



Makna “Valentine days” Syasya..


Wah asyik nih besok  banyak dapat coklat dari temen-temen, Ujar syasya bergumam sambil senyum-senyum sendiri, melihat kalender yang telah di lingkarinya dalam buku diari Pink kesayangannya “ 14 Februari 2011 ( valentine days). Diambilnya kotak Simpanan Uang , berbentuk hati , berwarna pink , dan bergambar mickey mouse kesukaannya.  Ia hitung satu persatu lembar dan receh yang ia kumpulkan selama beberapa bulan ini memang khusus memperingati hari valentine days, Rp. 300.000,00. Syasya adalah remaja tanggung yang baru menduduki kelas 2 SMP , Ia pun baru mendapatkan istilah “ Valentine days dari temen-temennya yang katanya “ hari kasih sayang”, dengan memberikan atau bertukar coklat dengan orang-orang yang di sayang , bisa sahabat/ pacar. Syasya berniat untuk membeli coklat banyak-banyak untuk sahabat-sahabatnya yang ia sayangi.
“ ada apa sayang?, kok keliatannya ada yang dipikirkan?”, ternyata mama sudah duduk disamping sya-sya tanpa di sadarinya. Dengan polosnya syasya menjawab, “ Gini ma bentar lagi kan mau “valentine days” jadi syasya mau ngerayainnya , syasya mau beli coklat dengan uang tabungan sya-sya banyak-banyak biar bisa tukaran sama temen-temen dikelas syasya. Mama tersenyum mendengarnya sambil membelai rambutnya dan bertanya, “ sya-sya tahu valentine days itu apa ,sayang?”, syasya menjawab Semangat sekali, “ hari kasih sayang ma”.” Hari kasih sayang kok Cuma satu hari, nak?, mama kan setiap hari menyayangi sya-sya ”, tanya mama lagi.” g tahu ma ( bingung, menggeleng-geleng sambil mengernyitkan keningnya)”.” mau dengar penjelasan tentang valentinedays  , sayang ?” , untuk kesekian kalinya mama bertanya. “ iya ma”, ( mukanya berubah cerah sangat antusias, mamapun mulai bercerita Bla… bla…
SEJARAH VALENTINE
 Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari .
The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa "St. Valentine" termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).
Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).
Lalu bagaimana dengan ucapan "Be My Valentine?" Ken Sweiger dalam artikel "Should Biblical Christians Observe It?" mengatakan kata "Valentine" berasal dari Latin yang berarti : "Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa". Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi "to be my Valentine", hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi "Sang Maha Kuasa") dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod "the hunter" dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!

“Ih , ma kok ceritanya g ngeri banget, benar-benar g mencerminkan kasih sayang itu sendiri??
O, berarti ”valentine days” Bukan perayaan Islam ya ma???” syasya bertanya.
Mama menjawab, iya sayang sebagai muslim yang baik hendaknya kita jangan mengikuti hal-hal yang tidak kita ketahui, sebagaimana firman Allah:
 Dan janglah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”. (Surah Al-Isra : 36)
Dan kita juga tidak boleh mengikuti suatu kaum apalagi yang jelas-jelas bukan Islam, sebagaimana hadits Rosulullah dan firman Allah:
Hadis Rasulullah s.a.w:“ Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.
Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Surah AL Imran: ayat 85)

Mulut kecil sya-sya dengan antusiasnya mulai berceloteh, “ bearti kalo sya-sya ikut ngerayain valentine day , sya-sya masuk golongan agama itu ya, ma? Nanti sya-sya masuk neraka, hah... takut,,, sya-sya gak mau ikut ngerayainnya”. Bergidik sambil memeluk mamanya.
Mama tersenyum menganggukkan kepala, dan membelai rambut ikal sya-sya..” mendingan uang yang kamu tabung buat kita bagi makanan untuk anak-anak yatim piatu atau dibeliin buku untu mereka belajar, kan lebih manfaat, sayang!, gimana?”
Sya-sya tersenyum, ” iya mama, biar pahala syasya banyak, nanti sya-sya masuk surga”.
” ok, mama ganti baju dulu ya, sayang”, jawab mama sambil melangkah keluar kamar syasya.

Rabu, 15 April 2015

Sebuah Renungan



Sebuah renungan!!!!!!!!

Illah , ketika Engkau buka senjaMu….. mataharipun mengerti…. Bahwa ini waktu ia untuk beristirahat dan ia pun bergegas kembali ke peraduannnya….
Manusia pun menunggu datangnya sang bintang, karena ia takut akan kegelapan….
 Engkau pun mengerti dan Engkau panggil Bintang untuk menerangi Gelap malam,,,, Indah bukan,,,,!!!
 Dan Engkau lengkapi malamMU dengan siulan Angin nan lembut, lambaian pepohonan, nyanyian ombak, ,,,,,, bertambah indah malamMu…
Hah..
Tapi Apa yang dilakukan oleh manusia saat itu,,
Kumpulan onggok tanah liat itu malah
Berjalan hilir mudik kesana kemari, dengan balutan benang yang tanggung,
Berjalan seperti onta, bibir merah merekah menawarkan diri kesana kemari,
Dan lawannyapun mulai mendekat dengan penuh nafsu jahannam….
Di lain tempatpun para onggokkan tanah yang masih bau kencur…..
Menghabiskan malamnya dibawah kerlap-kerlip lampu disco….

Inikah cara kalian Besrsyukur atas nikmatNya???
Inikah cara kalian Menghargai CiptaanNya????
Kalian tau..
Begitu sayang Robb terhadap kita..
Begitu mengerti ia akan apa yang kita butuhkan….
Tapi…
Ini yang kalian balas untuk semua pengorbananNya…


Satu hal yang harus kalian ingat !!! duhai onggokkan tanah liat!!
Allah tak pernah butuh kalian…!!!!

Selasa, 14 April 2015

LOVE

LOVE…………………….!!!!!

Apa sih Love bin cinta??????????
Cinta, ya cinta secara harfiah cinta memang susah untuk diungkapkan, setelah disurvei kepada orang yang sedang jatuh cinta  atau bahkan sedang mengalami yang namanya cinta mereka pun susah untuk mendefinisikan Cinta, unik bukan sebuah kata yang sederhana hanya terdiri dari 5 huruf C I N TA, namun untuk mendifinisikan kata itu rasanya susah sekali. Inilah salah satu kelebihan dari kata Cinta.  Ada yang berkata cinta itu buta sampai- sampai melakukan demi mengorbankan cintanya bahkan ada yang sampai bunuh diri karena cintanya ditolak. Ada juga yang melakukan hal-hal yang haram dilakukan demi membuktikan cintanya kepada sang pujaan hati, banyak remaja, orang dewasa merelakan kehormatannya demi bukti cinta kepada sang pangeran, bahkan banyak laki-laki rela diporotin oleh keksaih hatinya demi cintanya kepada sang bidadari hati. Ternyata ini makna cinta yang mereka maksud? Benarkah?
Dan anehnya setelah mereka lama bergelut dalam percintaan yang mereka ‘maksud’ dan akhirnya mereka mengakhirinya begitu saja dengan alasan yang sepeleh. “ Gw gak cinta lagi”, “Gw bosen sama dia”, Gw muak liat mukanya”. Aih,,, miris banget dengarnya, padahal sebelumnya mereka sangat mengagung-agungkan yang namanya CINTA.
Benarkah CINTA adalah seperti yang mereka maksud????
Mari kita pelajari kejadian-kejadian cerita di atas. Secara harfiah Cinta adalah rasa dimana seseorang saling mengasihi dan menyayangi. Dan cinta adalah anugrah serta fitrah yang deberrikan oleh Allah kepada kita tanpa cinta kasih dan sayang dunia ini akan hancur semua akan saling benci, pertikaian akan terjadi dimana-mana, Cinta hadir karena adanya kata Benci allah menciptakan seseuatu pasti ada pasangannya layaknya malam dan siang, hitam putih, laki-laki perempuan, basah kering dan lain sebagainya. Semua diciptakan Allah demi menyeimbangkan segala ciptaanNya sama halnya dengan Cinta dan Benci, Cinta ( kasih sayanga) adalah penetral rasa benci. Sekarang marilah kita maknai Cinta dengan lebih fleksible jangan hanya memaknai cinta sekadar hubungan laki dan perempuan ”nafsu” itulah yang membuat kata cinta ternodai, seolah-olah C I N TA adalah momok yang menakutkan. Ada sebuah kisah nyata yang berkenaan dengan cinta, dia adalah rekan saya, misalkan saja faiz. Faiz adalah mahasiswa perguruan tinggi negeri, fakultas kedokteran. Boleh dikatakan ia adalah seorang aktivis di kampusnya. Ia aktif di berbagai organisasi mulai dari BEM, DPM, LDF bahkan organisasi di luar kampus  ia geluti sungguh subhanallah disela-sela kegiatan kuliahnya yang lumayan berat ia rela mengorbankan waktu- waktunya untuk aktivitas yang telah diamanahkan kepadanya. Sebagai laki-laki normal ia pun jatuh cinta kepada seorang akhwat  sefakultas dengannya yang nota bene seorang aktivis juga. Namun toni tak langsung menyatakan kepada si akhwat dengan kata,” I Love U”, yang biasa di lakukan oleh laki-laki yang sedang jatuh cinta pada umumnya. Ia tetap memendam rasa cintanya sampai saat ini, dan akhirnya ia tidak berjodoh dengan akhwat tadi, ia pun  akan segera menikah dengan akhwat yang lain, yang insyaallah ia adalah bidadari yang dititipkan Allah untuknya. Apakah ia menangis dan menyesal ia tidak mendapatkan akhwat yang telah bertahun-tahun lamanya ia cintai, jawabannya adalah tidak, saya tidak menyesal, karena saya telah menjaga rasa cinta saya kepada dia kalaupun akhwat yang lain yang menjadi jodoh saya, saya yakin Allah telah memilihkan yang terbaik untuk saya dan Allah Maha tahu semua ini. Subhanallah ternyata masih ada pemuda yang memaknai cinta denagan hati bukan dengan nafsu.
Bayangkan seorang pemuda yang  emosinya yang sedang naik daun namun ia mampu berfikir jernih. Sebuah cerita yang sangat bertolak belakang dengan kisah sebelumnya yang memaknai cinta hanya sebuah nafsu belaka, layaknya barang, semula ia sangat menginginkan barang tersebut dan setelah ia miliki kemudian ia gunakan dan akhirnya ia bosan dengan barang tersebut, kemudian ia tinggalkan dan mencari barang yang lain yang ia inginkan. Sungguh menyakitkan bukan jika kita adalah barang tersebut. Itulah salah satu contoh setan yang berrwujud manusia. Tentu kalian tidak mau diibaratkan seperti barang ataupun pemilik barang tersebut. Tapi itulah faktanya yang sering dilakukan para remaja, dewasa, bahkan kakek- kakek sampai saat ini, bahkan sudah punya istri atau suami malah masih mencari korban yang lain. Sungguh manusia yang tidak bisa memaknai cinta sebenrnya? Mereka sama saja dengan binatang karena mereka hanya memperturutkan hawa nafsunya. Cinta yang tidak punya landasan.sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Al-furqon ayat 43-44 yang artinta:
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunyasebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?. atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar ataumemahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak,bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).

SO, Seperti apa cinta itu?
Seprti kisah Toni diatas begitulah cinta yang sebenranya yang berlandaskan Allah swt, bukan nafsu. Cinta adalah fitrah yang tak mungkin untuk dipungkiri. Tapi yang jadi persoalan sekarang bagaimana kita memanagenya dan jangan maknai cinta secara sempit. Islam telah mengatur semua ini, mulai dari cinta kepada ALLAh, cinta kepada Rosulnya, cinta kepada orang tua, sanak saudara, tetangga, sampai cinta kepada lawan jenis. Dan hendaknya kita melandaskan cinta kita hanya kepada Allah Swt, dan yakin akan segala ketentuanNya. Dan sebagai manusia yang diciptakan Allah Sebagai makhluk yang sempurna jangan sampai hanya mengandalkan Nafsu apalagi nafsu setan dan nafsu jahannam, jika tidak mau dikatakan sama dengan binatang.