Rabu, 06 Mei 2015

someone ^_^

 

Wahai kamu, sebuah nama yang belum tereja kata.
Sesosok pribadi yang belum terjangkau mata.
Wahai kamu yang entah berada dimana.

Di titik ini ku menanti sambil memantaskan diri, 
Biarlah ku sendiri di tengah ramainya gemerlap pacaran di usia dini.

Jika aku menjaga hati, aku yakin kau pun juga sedang menjaga hati, 
Karena firman-Nya itu pasti, 
Wanita baik-baik adalah untuk laki-laki baik-baik,

Wahai kamu, orang asing yang dengan ijin Allah akan menjadi imamku suatu saat nanti, 
Semoga Allah selalu menjagamu dalam sebaik-baik ketaatan padaNya.

Oleh: @perempuansurga

Jumat, 01 Mei 2015

Bersyukur




Tidak semua orang terlahir beruntung dalam hidupnya.
Ada yang tertakdir dengan wajah rupawan, pintar, harta melimpah dan orang tua yang harmonis.
Ada pula yang biasa saja.
Wajah biasa, harta tak menggunung, otak tidak terlalu cerdas.
.
yang beruntung hidupnya,
tak berarti Allah lebih sayang kepadanya.
Jangan geer dulu,
Bisa jadi didalam segala kemudahan itu terselip cobaan.
.
yang kurang baik hidupnya,
tak berarti Allah tak sayang.
Jangan berkecil hati,
Bisa jadi dibalik segala keterbatasan tersimpan hikmah yang besar.
.
yang beruntung tak punya hak menjudge si kurang beruntung jika menemukan "kesalahan" dalam hidupnya.

Pun sebaliknya,
si kurang beruntung tiada hak mencap si beruntung dengan perkataan keji karena terselipi iri dengki di dalam hati.

Jangan menghakimi seseorang hanya karena jenis dosa yang kita lakukan berbeda.
.
Sebab,
Kita terlahir berbeda.
Dibesarkan dan dididik oleh orang tua yang berbeda.
Memiliki latar belakang keluarga dan budaya berbeda.
Memiliki cobaan hidup berbeda.
Ada dalam lingkungan yang juga beda.
Lalu tumbuh besar dengan pandangan hidup yang beda pula.

Mengapa harus menjudge si A dengan cap "X" atau "Z" sementara engkau

tak pernah melihat menggunakan matanya,

tak pernah berpikir memakai otaknya,

tak pernah merasa menggunakan hatinya,

tak pernah meraba dengan tangannya,

tak pernah melangkah dengan kakinya,

tak pernah berkata menggunakan mulutnya,

tak pernah mendengar dengan kedua telinganya,

tak pernah rasakan oksigen mengaliri paru-paru menggunakan hidungnya,

tak pernah hidup dengan caranya,

dan

tak akan pernah bisa menjalani hidup yang dia punya walau satu detik saja.
.
Jadi,
apakah masih ada rasa sombong di diri untuk memberikan stempel buruk kepada saudara saudari kita sementara kita takkan bisa menjadi dirinya dan berada di posisinya?

Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hambaNya.
Baik di mata manusia belum tentu baik di mata Allah.
Buruk di mata manusia belum tentu buruk di mata Allah.
.
Tumbuhlah.
Jalani hidupmu dengan sebaik-baiknya.
Jika pernah dan sedang salah, segeralah perbaiki.

Belajarlah.
maka engkau akan semakin mengerti dan semakin bijaksana dalam menyikapi hidup.
.
Kontribusi oleh: @kinantisetiawan 🙏

Sabtu, 25 April 2015

Isnarmi si gadis Lais


Sejuknya aroma pantai , setiap sore aku selalu duduk di tepi pantai didesa ku tepatnya di desa “ Lais, Bengkulu utara, kunikmati lambaian dedaunan pohon kelapa, dan sejuknya angin laut yang merasuk kedalam poriku, begitupun alunan deburan ombak yang meramaikan suasana serta kicauan burung laut yang tak mau ketinggalan , hilir mudik kesana-kemari, MasyaAllah, begitu sempurnanya cipataanMu. Aku duduk di sebuah patahan pohon kelapa yang sudah tua, sambil menikmati buku-buku yang aku beli dari pasar loak, ya Cuma buku bekas. Maklumlah, kami ini anak nelayan tak mampu untuk membeli buku yang baru, pakaian sekolah pun untung  ganti 3  tahun sekali. Tapi aku bersyukur , aku memiliki orang tua yang lebih mementingkan pendidikan, ayahku banting tulang pergi melaut pergi malam hari dan besok pagi pulang,  paginya ia menjual barang tangkapannya dengan wak jamal, itupun harganya sangat miring dan tak sebanding dengan kerja keras bapak, begitulah setiap harinya, demi mengidupi enam anak dan mamak. Namaku Isnarmi, tapi biasa dipanggil iis, aku anak pertama dari 6 bersaudara, adik-adikku masih kecil-kecil , aku sendiri adalah siswa kelas 3 madrasah aliyah ( MA), aku punya 5 adik, 3 laki-laki dan 2 perempuan. Ahmad kelas  2  MTS, yusuf kelas 1 Mts, ainun kelas 4 SD, Fatimah kelas  1 SD dan yang terakhir luqman baru berusia 3 tahun. Sebenarnya mamak dan bapak bukanlah penduduk asli sini, mamak dan bapak adalah orang Medan melayu, entah apa sebabnya kami terdampar di sini, namun walau kami tidak berada di medan kami tetap menggunakan bahasa melayu, di rumah kami.
Tak terasa hari hampir magrib, kakikupun melangkah kesebuah rumah yang sangat sederhana, terbuat dari kayu, berlantai semen kasar. “ darimana nak?”,  mamak bertanya. Kutatap lemat-lemat wajah yang lelah , kelihat setiap kerutan di wajahnya, kerutan yang telah menjadi saksi betapa susahnya ia mengarungi kehidupan ini. “seperti biasa Dari pantai mak” ujarku sambil menyunggingkan senyuman . ya sudah, tolong mandikan luqman, mamak nak masak untuk makan kalian petang ni!. “Iyo mak. Akupun langsung bergegas ke sumur, sambil menggendong luqman yang imut, ia sangat senang jika ia akan dimandikan, karena ia suka main air, biasalah anak kecil. “ Allahuakbar- Allahuakbar”, azan magribpun berkumandang, kami aku dan adik-adikku sudah siap berangkat menuju surau kecil, yang jaraknya hanya 30 meter dari rumah. Kebiasaan di desa kami, sholat magrib berjamaah di surau sesuasai sholat  para anak-anak dan remaja  langsung meneruskan tadarusa al-qur’an. setelah isyak baru lah kami pulang kerumah kami masing-masing.
Seperti biasa, usai mengaji, tugas saya adalah mengajari adik-adik saya belajar , setelah usai mengajari mereka barulah saya focus ke pelajaran saya. “ Is dah malam nak, belum tidur?” mamak memecah kan konsentrasiku, “ Ia mak bentar la lagi, masih banyak tugas yang nak diselesaikan”, jawabku.  Tapi jangan dak tiduk ye”. Mamak menjawab lagi. Iye mak! Kulihat jam masyaAllah udah jam 12.30, kulihat adik-adikku sudah tidur lelap semua, haha benar- benar sunyi, hanya suara nafas yang berdesah sesekali yang terdengar. 
Kriiiiiiiiiiiiiiing……………..
Kriiiiiiiiing............
Satu-satunya jam alarmku berdering keras, alarm tua yang telah menemaniku sejak aku kelas 3 SD , aku ingat betul ketika bapak membelikan ini sebagai hadiah ulang tahunku yang ke – 8 , dan setelah ini aku tak pernah mendapatkan hadiah-hadah lagi. Ku lihat jam kusam ini, Aku terperanjat, sudah jam 4.00. aku buka jendela kamarku untuk menghirup udara pagi, terdengar sayup-sayup suara mamak mengaji sangat merdu. Adik- adikku masih pulas tertidur . ku basuh mukaku, kuambil air wudhu, lalu ku bangunkan adik-adikku. Merekapun bergegas bangun dan bersuci kemudian bersiap-siap untuk melaksanakan subuh berjamaah kesurau. 
Sepulangnya kami bersiap- siap untuk berangkat ke sekolah, dan mamak telah mempersiapkan sarapan untuk kami.


Di Sekolah
Is, panggil bu eli. Ya bu, jawabku. Kau di panggil kepala sekolah katanya ada yang nak dikasihkan!. Dengan gugup dan pikirang bermcam-macam aku perg menghadap pak hamdi, kepsek kami. Ku ketuk ruang  kepsek,  masuk is kata pak hamdi. Aku masuk keruangan, duduklan ,ujar pak hamdi lagi. Akupun duduk,dan bertanya,” ada apa pak?”, tanyaku. Begini bapak dapat surat dari perguruan Tinggi di malaysia, yang kau ikut tes kemaren. Kata bapak hamdi. Hah tubuhku semakin gugup. Memang 3 bulan yang lalu aku ikut tes beasiswa ke UTM ( univesiti teknologi malaysia). ”Lalu pak apa isi suratnya” dengan wajah gugup dan mulai berkeringat dingin. ” kamu dinyatakan lulus beasiswa di sana untuk jurusan Teknik Informatika disana” kata bapak sambil memberikan suratnya. Aku langsung berteriak haru dan sujud syukur di ruang kepsek, bulir-bulir beningpun mengalir begitu saja, tak henti-hentinya kupanjatkan rasa syukurku kepada Allah Swt.
Sepulang sekolah, Aku langsung manghambur dan memeluk mamak, mamang bingung melihat tingkahku yang tidak biasa. ”Mamak Aku lulus beasiswa ke UTM ( malaysia) jurusan informatika” jelas mamakku sontak sujud syukur dan  menciumku berulang kalie, ”Alhamdullillah terimakasih ya Allah” berulangkali ia mengucapkan rasa syukurnya. Ku tatap wajahnya terlihat gurat kegemberiaan menghapus lelahnya selama ini, ketika mendengar kabar gembira ini. Namun aku masih harus menuggu kepulangan bapak sudah 2 hari ia melaut dan belum pulang, tak seperti biasanya.
Seperti biasa sore ini aku pergi ke pantai sambil menenteng buku di tanganku, sambil ku gendong luqman, mamak tadi pergi ke rumah tetangga yang akan kawinan aku ditugaskan untuk mengasuh luqman. Di perjalanan aku lihat, rike, serli, dan rika yang sedang tertawa lepas mengobrol dengan teman prianya.  Gadis seusiaku memang sudah seharusnya menikah kalau di desaku. Sehingga banyak yang sudah berpacaran ketika mereka masih sekolah. Tapi mamak dan bapak selalu menasihati aku agar tidak terlalau dekat dengan laki-laki yang bukan muhrim, karena itu dosa, dan aku juga sering membaca buku banyak wanita yang berpacaran sampai hamil di luar nikah, sehingga mereka malu dan mengugurkan kandungannya. Cerita dan berita yang membuat aku mual dan jijik.Maka dari itulah aku lebih memilih jalanku dari pada mengikuti mereka, tapi banyak teman-teman yang mengataiku iis si kolot g laku dan pacarnya Cuma buku dan buku, aku tak pernah menanggapinya, karena yang terpenting buatku adalah Cinta Allah, dan kebahagian keluargaku.
Hah sore, ini tak seperti biasanya, ombak begitu deras dan tinggi,  anginpun tak bersahabat  sangat kuat sehingga dahan ranting kelapa yang sudah tua ikut terbawa angin, akhirnya aku memutuskan pulang, keuambil luqman yang asik bermain pasir, ” kita balik lukman, ari la petang”. Iya pun mangakat tangannya tanda siap untuk di gendong.
Hujan mengguyur lebat, aku berlari kecil kuambil pelepah kelapah untuk melindungi luqman. Akhirnya aku sampai di istana kami. Ainun langsung menyambut kami yang basah kuyup, ia langsung mengambil luqman dari tanganku dan mengajaknya mandi. Ainun memang baru kelas  4 SD tapi sikapnya sangat dewasa, ia sangat telaten merawat luqman, ia juga pintar masak, begitupun fatimah gadis kecil yang berusia 6 tahun ini sedang sibuk menjahit pakaian sekolahnya yang robek.  ” mamak belum pulang mah?” aku bertanya ke fatimah, belum yuk, mamak masih sibuk masak disana.” bapak?” tanyaku lagi. ” belum pula yuk, bapak masih melaut kata wak harun bapak ikut melaut ke laut seberang makanya belum pulang sampai hari ini”. Aku langsung ke dapur menggantikan mamak menanak nasi dan masak sayur untuk makan malam.
Tok2..........
Assalamu’alaikum terdengar suara dari pintu depan, ku panggil fatima, Mah , liat la keluar dulu, sape yang ngetok tu. Fatimah langsung membuka pintu ternyata ahmad dan yusuf  balik, badannya penuh pasir dan basah kuyup, menggigil. Mereka langsung bergegas mandi kesumur. Ku lihat mereka sambil menggeleng-geleng, dari main bola ye, tanyaku. ” iye kak, jawab mereka.  Ahmad dan yusuf memang suka sekali bermain bola hampir setiap sore mereka menghabiskan waktunya bermain bola.

Mamak pulang kata fatimah riang, ia senang sekali,setiap pulang dari masak tempat tetangga hajatan mamak pasti dapat lauk dan gulai.  ” bapak dah pulang nak?”, tanya mamak, ’ belum mak ,jawabku. Kulihat mimik muka mamak yang penuh dengan kecemasan. Baiklah mamak mandi dulu kalian siap-siaplah untuk sholat jamaah, kite jamaah di rumah saje, Ahmad jadi imam ye?” tanya mamak.  ” iye mak” sahut ahmad,,
Suasana rumah mendadak menjadi seperti surau,  hikmat dan sungguh syahdu, lantunan ayat demi ayat al-Qur’an begitu indah dialunkan oleh ahmad. Ahmad memang Juara 1 MTQ, tingkat provinsi. Sesuasai sholat kami langsung tadarusan,,
Tiba-tiba.............
Tok...2...
Assalamu’alaikum,
Siapelah kemari hujan-hujan deras begini kata mamak. Mamak pun membuka pintu ku lihat wajah tak asing lagi, yah wak harun, , masuk wak ujar mamak, beliaupun masuk,” aisyah, kami dapat kabar dari jamal, katanya kapal yang dipakai Farhad tenggelam di telan ombak yang besar”. Dunia seperti benar- benar gelap mamak terkejut dan menangis sejadi-jadinya, berulang kali mengucapkan ”innalillahi wainnailahi rojiun”. Kamipun sontak langsung memeluk mamak dan menangis di pelukan beliau. Wak harun ikut meneteskan air mata. Wak harun adalah kakak bapak satu-satunya dan satu2nya keluarga bapak yang tersisah.” sabar aisyah kami sekarang sedang berusaha mencari Farid dan teman-temannya, bersama TIM penyelamat lainnya, doakan saja semoga Farhad Selamat”. Iye wak, makaseh atas beritenye, InsyaAllah.
Ya Allah, padahal baru beberapa jam yang lewat aku melihat tawa dan tangis bahagia beliau akan kelulusanku di UTM, sekarang semua berubah keperihan dan kesedihan yang nyata,” Ya Allah Selamatkan dan temukan bapakku”, aku berdoa di dalam hati.
Aku dan mamak benar-benar tak bisa tidur malam ini, mamak tak berhenti mengaji, dan bertasbih, ia begitu khusuk, kuikuti kata demi kata, dan bait demi bait lantunan ayat suci yang dibacakan mamak, bulir-bulir airmata tak terasa telah membanjiri mukena ku,  Ya Robbi, Cobaan apa yang Engkau berikan kepada keluarga hamba, begitu beratnya ya Allah, ku tatap adik- adikku yang tertidur pulas, mereka masih terlalu kecil untuk mengerti keadaan ini, mereka belum siap jika meraka harus di tinggal bapak, Bapak adalah tulang punggung keluarga hamba, ku alihkan pandanganku ke mamak yang sedang khusuk bermunajah kepada Allah, Mamak, Engkau begitu tegar menghadapi aral yang merintang dalam kehidupan ini, air mataku semakin menjadi ketika mataku semakin dalam menatap muka mamak yang basah oleh air mata, ya memang  air matalah yang membuat mamak bisa tegar sampai saat ini. Ia tak pernah menampakkan keluhnya kepada kami, Ia hanya akan berkeluh kesah ketika sepertiga malam, ia curahkan semua isi hatinya dan harapnya jika sepertiga malam tiba. Beliau begitu sabar menhadapi kami yang bandel, setiap bapak pulang pasti ia menyediakan makanan yang enak, ia akan memanaskan air untuk bapak mandi, ah mamak memang wanita sholehah. 
Esok pagi seperti biasa kami berangkat sekolah, hari ini aku tidak bisa berfokus belajar hari ini. Konsentrasiku benar-benar buyar, aku tak tahu apa yang di jelaskan oleh ibu salma, mataku hanya menerawang kosong menatap papan tulis. Teng-teng, lonceng  berbunyi tanda waktunya pulang. Aku langsung menyusun bukuku dan langsung keluar dari kelas. Kakiku melangkah secepatnya tak seperti biasa, kulihat dari kejauhan, rumahku ramai dikujungi tetangga ada bendera kuning yang bertengger di pagar buluh rumah. ’ ada apa ini?’ gumamku, semakin cepat kulangkahkan kaki ini. Kulihat sosok yang di balut kain putih dan ditutup ole kain baik rumahku, aku pun langsu mendekatinya, innalillahiwainnilahi rojiun, Bapakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk, tangisku , mamak langsung mendekatiku dan memelukku, kupeluk mamak sekuat-kuatnya , kulihat, ainun, fatimah, ahmad, dan yusuf mereka berempat berangkulan menangisi kepergian bapak, sedangkan luqman, masih asyik bermain dengan mobil-mobilan yang di belikan bapak 1 bulan yang lalu, ah luqman kau memang masih terlalu kecil untuk mengerti ini.
Mau tidak mau kami harus mengikhlaskan kepergian bapak,  sudah satu minggu kami di tinggalkan bapak, mamak sudah mulai  bergiat bekerja menjahit dan berjualan ikan di pasar induk. Kami dan fatimah bergantian membantu mamak, jika aku, ahmad dan yusuf  pulang sekolah, kami ganti baju dan menggantikan mamak berdagang sedangkan ainun dan fatimah dirumah menjaga luqman ,mamak pulang untuk meneruskan pesanan jahitannya, begitu seterusnya, hingga bulan pun berlalu. Tak ada lagi waktu sore di tepi pantai.
Tepat akhir juli aku dinyatakan lulus MA dengan Juara umum 1, aku sungguh bahagia, ku lihat muka mamak begitu bangganya. Pak hamdi,” selamat ya iss, o- ya gimana beasiswanya jadi diambil?”, aku terdiam mendengarnya, insyaAllah pak, nanti saya mau izin dulu sama mamak, ujarku. ” baiklah kalau begitu, kalau jadi bilang ke pak saja, nanti bapak bantu kamu urusnya”. Jawab pak hamdi. ” baik pak, makasih”, jawabku.
Sesampai dirumah, mamak sudah menyiapkan hidangan lezat dan spesial,  ainun, ahmad, fatimah, yusuf, dan si kecil luqman  berlari kecil memelukku, sambil membawa kertas gambar yang bertuliskan, ” SELAMAT UNTUK AYUK KAMI TERCINTA, KAMI CINTE AYUK”,  air mataku mengalir begitu saja kucium wajah mereka satu persatu, ” trimemakeh adik-adikku sayang”.  IS, Ahmad, Yusuf, ainun, fatimah, luqman, payo kite makan dulu”. Mamak berteriak memanggilkan kami dari ruang makan + dapur.


Langit mulai gelap, senjapun tiba, suara adzan terdengar indah, menyusuri pori dan masuk kerelung hati yang paling dalam, Masyarakat ”lais” berbondong- bondong pergi kesurau tanpa terkecuali.  Aku membantu mamak menjahit pulang dari surau, ” is, besok cemane beasiswamu jadi tak nak kau ambil”, ujar mamak. aku balik bertanya, menurut mamak?”, ” kau ambil ya, mamak setuju, kau harus jadi orang biar bisa bantu mamak sekolahkan adik-adikmu nanti, mamak akans selalu berdoa untukmu is”. Aku termenung sejenak kumatikan mesin jahitku. ” kutarik nafas dalam-dalam, baiklah mak is akan ambil. Besok is kerumak pak hamdi untuk mengurusnya”. Mamak beranjak memelukku untuk yang sekian kalinya.
Esok harinya aku bergegas mendatangi pak hamdi, beliaupun langsung membantuku menghubungu pihak UTM. Hari ini aku pergi ke ibu kota provinsi untuk membuat rekening dan mengurus paspor serta visa pelajarku disana, jujur jika tidak ada beasiswa kau tidak akan bisa kuliah, semua biaya hidup serta keberangkatanku telah di biayai oleh pihak UTM. Pak hamdi begitu bersemangatnya membantu aku, ia pernah berkata bahwa ia sangat bangga karena baru aku satu-satunya mahasiswa yang lulus tes beasiswa ini.
”ya Allah terima kasih, Engkau telah memberikan bantuan kepada ku dengan tangan pak hamdi, Balasalah semua kebaikkannya terhadapku, aku belum bisa untuk membalasnya” doaku dalam hati.
” is ini, buku rekening, ATM, dan Visa pelajarmu,  serta paspormu, kamu berangkat tanggal 15 Agustus. Nanti bapak yang mengantar kamu ke provinsi lagi”, ujar pak hamdi. ” iya pak, trimakasih”, jawabku.



Ku rebahkan tubuhku diatas kursi rotan, kutarik nafas dalam-dalam, begitu nikmatnya. Waktu tinggal 1 minggu lagi berada di Desa ini, Desa lais yang sangat kucintai, aku pasti akan merindukan deburan ombak, dan lalu lalang anak-anak berlari bermain bola di tepi pantai. Aku harus memaksmalkan untuk bantu mamak selama 1 minggu ini.
Esok harinya, seusai sholat subuh mamak telah bersiap berangkat ke pasar dan aku menyiapkan nasi dan lauk kedalam rantang untuk mamak sarapan di pasar, adik-adikku sibuk lalu lalang menyiapkan buku dan tas serta pakaian untuk mereka ke sekolah, setelah siap mereka berkumpul di meja makan tua yang hampir reot, mereka makan sarapan dengan lahapnya walau Cuma lauk ikan asin. Ku tatap mereka satu persatu, pakian mereka persis kain pel, tidak putih lagi, sepatu mereka, sudah tambalan sana-sini, tas mereka sudah lapuk dimakan usia, ” ya Allah, semoga jalan yang hamba pilih ini benar, rasanya aku benar-benar berat meninggalkan mereka”, tak terasa tertitik air mata ini. Yuk kami berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum”, ujar mereka. ” wa’alikusalam”. Kupandangi punggung-punggung kecil mereka sampai menghilang, akupun bergegas melanjutkan jahitan baju yang harus diselesaikan hari ini.
Kulihat kalender, hari ini adalah hari terakhirku berada di tumah tua ini, besok adalah hari keberangkatan ku ke malaysia. Mamak sibuk mempersiapkan barang-barang untuk kubawa besok. ” is, jagelah dirimu baek-baek  di sane, jangan macam-macam, Sholat lime waktu jangan ditinggalkan, tadarus dan hapalan Qur’an mu juga lanjutkan. Dan terakhir mamak pesan, tak usahlah kau pacar-pacaran, kalau jodoh InsyaAllah pasti dipertemukan kelak, ye! Mamak akan selau berdoa untukmu nak” sambil mengelus rambutku. 
Iye la mak, InsyaAllah mak akan laksanakan petuah mamak. Jawabku sambil tersenyum.


Tanggal 15 Agustus
Mamak memang tak jualan hari ini, beliau sibuk memasak dan mempersiapkan keberangkatanku ke Malysia, adik-adikkupun tak ada yang sekolah. Tepat pukul 07.00 pak Hamdi menjemputku, mengingat keberankatan pesawat yang akan aku tumpangi pukul 9.30, dari desa saya ke ibukota butu wakti 1 jam 30 menit. Ku peluk mamak erat-erat, rasanya tak ingin kulepaskan pelukannya, namun mamaklah yang melepaskannya, begitupun adik-adikku mulai meneteskan air mata, mereka menghambur memelukku, kucium wajah mereka satu persatu, sampai jilbabku basah oleh tangis mereka. ” yuk kalau lah jadi orang jangan lupe same adek-adek ayu ni, ujar ahmda”. Aku mengangguk dan memeluk mereka untuk kesekian kalinya.
Ku lepaskan pelukanku, mereka menangis sejadi-jadinya, mamak sibuk membujuk mereka. ” Assalamu’alaikum warahmullahi wa barkathu”, ku lambaikan tanganku. ” wa’alaikum salam wr wb” jawab adik-adik dan mamak.
Hah, Lais aku titiP adik-adik dan mamakku di sini, Semoga kelak kami akan di pertumukan segera.
Langit pun seolah tahu, Hari ini benar-benar mendung, semendung hati kami…

To be continue!!!
^_^

Universitas Teknologi Malaysia
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Universitas Teknologi Malaysia (bahasa Melayu: Universiti Teknologi Malaysia; UTM) merupakan salah sebuah universitas di Malaysia. Kampus utamanya terletak di Skudai, Johor Bahru, sementara kampus cabangnya terletak di Kuala Lumpur. UTM memperoleh status universitas pada Maret 1972 dan resmi didirikan pada tahun 1975.


Jumat, 24 April 2015

Si Kalem dan Si Gaul

Berkisah tentang 2 orang sahabat yang sudah berteman sejak lama. Yang satu sedikit kalem, yang satu lagi sedikit gaul. Tapi mereka sama-sama saling menerima kekurangan masing-masing. . Saat itu si kalem sedang berjalan kaki menuju kelasnya, dan langkah itu terhenti oleh suara tangis yang mendengarkannya ikut iba. Ternyata itu suara dari si gaul. sikalem pun langsung mendekati dan bertanya. "Kamu kenapa menangis? Sendirian lagi, ngga belajar?" Si gaul menjawab "aku baru aja putus sama pacar aku, 😢 dia selingkuhin aku, pantasan aja dari kemrin2 dia jarang bales pesan aku dan jarangg nelpon aku.. pokoknya aku bakalan cari cowok yang lebih keren dari dia" Dan sikalem pun menghibur dengan lembut.. "sudah..sudah..jangan ditangisin orang yang belum tentu halal untukmu kelak, belum tentu juga dia jodohmu" sambil mengusap airmatanya. Lalu si gaul bertanya, "emangnya kamu ng pernah menangisin kekasimu?" . Lalu si kalem terdiam seketika dan seakan udara terasa dingin, tak lama setelah itu ia berkata, "iya.. aku memang sering menangisi Dia karena sangat mencintai Kekasihku, baik dari subuh, siang, sore, maghrib dan malam pun aku slalu ingat kepadaNya.. setiap hari aku menangisiNya, membaca surahNya, Apalagi didalam surah itu tiap lembar sekali ada saja siksaan yang membuat jantungku takut akan kematian" Si gaul pun keheranan dan bertanya lagi, "Emangnya siapa kekasihmu yang kamu tangiskan?" Dan sikalem menjawab dengan meratap "Dia Sang Khalik.. Allah.. Tuhanku" 😢😢 - kontribusi oleh: @alfi_syah - #duniajilbab

Senin, 20 April 2015

Aku Tahu



Allah,
aku tahu aku lemah..
Allah,
Aku juga tahu
Aku tak ada apa-apa

Allah,
Aku tahu
Bahkan akupun tak mengenali diriku sendiri..
Bagaimana bentuk rambut dan telingakupun aku tak bisa melihatnya sendiri.

Allah,
Aku tahu
Aku ada karena kemurahan TanganMu..
Aku ada karena KasihMu
Aku ada karena SayangMu..

Allah,
Aku tak mengharapkan Umur yang panjang, harta yang banyak..
Aku hanya ingin hidup dalam DekapanMu,
Aku hanya ingin hidup dalam keberkahanMu..
Aku hanya Ingin hidup dalam RidhoMu…
Lapangkan jalanku untuk menghadapMu..
Mudahkan Jalanku untuk bersua denganMU..

Biarkan Dunia mengikutiku..
Jangan biarkan Aku yang mengikutinya..